Kemenkes Catat 1400 Kasus Penyakit Kulit Frambusia di 17 Provinsi

Kegiatan Gerakan Masyarakat Kampanye Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia-PNEUMONIA di Grand Hotel Cenderawasih Jalan Cenderawasih, Jumat 15 Maret 2019.

Kegiatan Gerakan Masyarakat Kampanye Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia-PNEUMONIA di Grand Hotel Cenderawasih Jalan Cenderawasih, Jumat 15 Maret 2019.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kementerian Kesehatan RI mencatat sedikitnya 1400an kasus penyakit kulit Frambusia yang tersebar di 212 kabupaten kota di 17 provinsi.

Demikian dikatakan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementrian Kesehatan RI, dr. Wienra Waworuntu disela-sela Kegiatan Gerakan Masyarakat Kampanye Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia-PNEUMONIA di Grand Hotel Cenderawasih Jalan Cenderawasih, Jumat 15 Maret 2019.

” Dari hasil survei yang dilakukan kasus penyakit kulit Frambusia sebagian besar di terjadi di timur seperti Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Di Sulawesi ada di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, alhamdulillah Sulsel belum ditemukan,”sebutnya.

Menurut Hijrah, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap 1.400an orang di 17 Provinsi tersebut sebagian besar kasus dengan kategori usia produktif.

Upaya dilakukan lanjutnya, pemberian obat pencegahan massal (Azil Tromisyin), dengan harapan akan terjadi penghentian virus dan kuman di dalam dadah.

” Sejauh ini upaya kita menyediakan obat sudah cukup. Dan biasanya masalah tidak selesai begitu saja dengan obat massal dan hanya cukup 90 persen. Setelah minum obat selama 3 tahun berturut-turut kami dari kementerian akan turun periksa langsung darah penderita. Apakah masih ada inveksi bagi penderita. Kalau ada faktor resiko orang di sekitarnya positif maka faktor resiko ini juga harus diperiksa hingga tidak ditemukan pasien,”urainya.

Diketahui penyakit Frambusia adalah sejenis penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri bernama Treponema pallidum, yang di mana kulit mengalami infeksi akibat bakteri tersebut. Penyakit ini dapat dikategorikan sebagai penyakit menular, karena penularannya sangat cepat hanya dengan kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit orang lain.

” Frambusia ini penyakit yangdiabaikan dianggap biasa saja dan tidakk bergejala.
Penyakit ini kelompok marginal dan miskin. Target kita 2020 bebas frambusia, tahun 2022 eliminasi kusta di kabupaten kota dan 2050 tidak ada lagi kasus baru,”harapnya.

Selain itu, penyakit ini dapat tumbuh dan berkembang biak dengan suhu pada daerah yang tropis, panas dan hujan. Selain itu, kebersihan lingkungan juga dapat menjadi factor penting pada penyakit ini, sanitasi, air, dan lingkungan yang buruk karena jika lingkungan sekitar dalam keadaan kotor maka akan dengan mudah penyakit ini tumbuh subur.

Gejala penyakit frambusia, akan ditandai dengan munculnya kutil pada muka, dan pada anggota gerak seperti kaki, tangan, dan yang lainnya. Selain itu, gejala awal pada penyakit ini akan bertahan berminggu-minggu bahkan bulan. Dan juga penyakit ini bersifat kronik, yang dimana jika tidak segera diobati akan merusak jaringan kulit, yang mana dapat menimbulkan cacat pada penderitanya.

Biasanya pada kasus yang terjadi, penyakit ini rentan diderita balita atau anak berusia kategori umur 1-5 tahun. Namun potensi pada orang dewasa juga sangat tinggi jika tidak menjaga kebersihan lingkungan terutama di sekitar rumah.

Sementara Anggota Komisi IX DPR RI, Aliyah Mustika Ilham meminta kepada seluruh masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dengan membersihkan lingkungan dan makan makanan yang sehat agar terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya yang menghantui warga kota Makassar saat ini adalah Kusta atau yang biasa dikenal warga dengan sebutan Lepra.

“Kusta adalah salah satu penyakit yang banyak diderita warga kota Makassar, olehnya itu kami harapkan agar kita semua bisa mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran penyakit kusta ini,” ujar Isteri Wali kota Makassar 2004-2014, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ini.

Selain itu, Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) kota Makassar ini melanjutkan, penyakit kusta atau lepra memiliki stigma yang sangat buruk di mata masyarakat khususnya di kota Makassar.

“Kalau ada yang sakit kusta, pandangan masyarakat umum sangat tidak baik. Mereka yang menderita sakit ini pasti dikucilkan karena penyakit ini memiliki stigma tidak baik di mata masyarakat khususnya kita yang ada di kota Makassar. Mereka yang menderita penyakit ini pasti cenderung dijauhi,” ucapnya.

“Olehnya itu, jaga kebersihan lingkungan kita, kebersihan tubuh kita agar kita terhindar dari yang namanya penyakit kusta,” tuturnya. (***)